Taman Jatuh Cinta & rekreasi orang-orang dimabuk rindu

Kata Pengantar

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Ya Tuhanku, berilah kemudahan, wahai Yang Maha Pemurah.

Segala puji hanyalah bagi Allah yang telah menjadikan mahabbah (cinta) sebagai sarana untuk meraih kecintaan dari-Nya. Dia telah menetapkan ketaatan dan ketundukan kepada-Nya sebagai bukti nyata untuk menunjukkan kebenaran cinta kepada-Nya. Dia telah menggerakkan jiwa ini melalui kekuatan cinta sehingga dapat melakukan berbagai macam penyempurnaan sebagai prioritas utama untuk meraih cinta-Nya. Dia juga telah menganugerahkan cinta kepada alam atas dan alam bawah sebagai manifestasi, bantuan, dan karunia dari-Nya untuk menampilkan kekuatan kesempurnaan-Nya ke dalam wujud nyata. Dia telah menggerakkan cita-cita yang luhur dan tekad yang tinggi dengan kekuatan cinta yang telah Dia fitrahkan secara khusus kepada makhluk-Nya sehingga dapat meraih tujuannya yang paling mulia.

Mahasuci Tuhan yang telah menganugerahkan cinta ke dalam kalbu berkat kekuasaan-Nya menurut apa yang dikehendaki-Nya untuk tujuan yang dikehendaki-Nya. Dia pula yang telah mengeluarkan bakat yang terkandung di dalam diri setiap makhluk melalui cinta berdasarkan hikmah kebijaksanaan-Nya. Dia pulalah yang telah menciptakan cinta menjadi beberapa macam, kemudian dibagi-bagikan-Nya di antara makhluk-Nya secara terinci. Dia telah menganugerahkan cinta kepada setiap makhluk-Nya agar menyukai apa yang dicintainya dalam kadar tertentu, tanpa memandang apakah dia keliru atau[kah] benar dalam cintanya, dan menjadikan pihak yang mencintai dengan kecintaannya itu merasa disenangkan atau disengsarakan. Untuk itu, Dia membagi-bagikannya di antara pengabdi Tuhan Yang Maha Pemurah, pengabdi berhala, pengabdi api, pengabdi salib, pengabdi negara, pengabdi saudara, pengabdi wanita, pengabdi anak, pengabdi materi, pengabdi iman, pengabdi musik, dan pengabdi Al-Qur’an. Akan tetapi, Dia telah mengutamakan pencinta Allah, Kitab, dan Rasul-Nya di atas semua pencinta lainnya dengan keutamaan yang sebenar-benarnya.

Berkat adanya cinta dan untuk memanifestasikan cinta, diciptakanlah bumi dan langit. Berkat adanya cinta, terciptakanlah semua makhluk. Karena cinta, menjadi bergeraklah semua planet yang beredar di cakrawalanya, dan karena cinta, semua gerakan dapat mencapai tujuannya membentuk matarantai gerakan yang serasi dan manis sejak permulaan hingga penghujungnya. Berkat adanya cinta, jiwa ini dapat meraih segala yang didambakannya, dapat menggapai semua yang diperlukannya, dan terhindar dari kebinasaan, sehingga dengan mulus dapat menempuh jalan menuju Tuhannya. Sebaliknya, tanpa cinta, tinggallah harapan dan angan-angan saja. Berkat adanya cinta, jiwa ini dapat meraih kehidupan yang baik dan dapat merasakan manisnya iman manakala jiwa ini merasa ridha kepada Allah sebagai tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad saw. sebagai rasul anutannya.

Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata; tiada sekutu bagi-Nya, sebagaimana kesaksian seorang yang mengakui Dia sebagai rabb[Tuhan]-nya, membenarkan keesaan-Nya, tunduk karena cinta kepada-Nya, patuh dengan penuh ketaatan kepada-Nya, mengakui nikmat-Nya, memohon ampunan kepada-Nya karena dosa-dosa dan kesalahannya, mengharapkan pemaafan dan rahmat-Nya, menginginkan ampunan-Nya, berlepas diri dari upaya dan kekuatannya, dan hanya berserah diri kepada-Nya, tidak menginginkan rabb selain-Nya, dan tidak menjadikan siapa pun selain Dia, baik sebagai penolong maupun pelindung, berlindung dan mengadu hanya kepada-Nya, dan tidak pernah bergeming atau goyah dari menyembah-Nya.

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, makhluk pilihan-Nya, dan orang yang dipercaya untuk menyampaikan wahyu-Nya. Aku bersaksi bahwa dia menjadi duta antara Dia dan hamba-hamba-Nya serta makhluk yang paling dekat hubungannya dengan Dia, paling besar kedudukannya di sisi-Nya, paling didengar syafa’atnya di sisi-Nya, paling dicintai oleh-Nya, dan paling dimuliakan oleh-Nya di antara semua makhluk-Nya. Allah telah mengutusnya untuk menyeru manusia kepada iman, mengajak mereka masuk surga, menunjuki mereka untuk dapat menempuh jalan-Nya yang lurus, selalu berupaya untuk meraih ridha dan cinta-Nya, serta senantiasa menyeru kepada setiap perbuatan ma’ruf dan mencegah setiap perbuatan mungkar. Allah telah meninggikan sebutannya, melapangkan dadanya, memaafkan semua dosanya, menjadikan kehinaan dan kenistaan bagi orang yang menentang perintahnya dan telah bersumpah dalam kitab-Nya yang menerangkan dengan menyebut usianya (sebagaimana yang disebutkan dalam surat al-Hijr melalui firman-Nya: “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing dalam kemabukan (kesesatan).” (QS al-Hijr [15]: 72)

Allah telah menggandengkan namanya dengan nama diri-Nya, maka apabila nama Allah disebutkan, disebutkan pula nama dia bersama-Nya, seperti dalam khuthbah-khuthbah, tasyahhud, dan adzan. Tidak sah seseorang melakukan khuthbah, tasyahhud, atau adzan, kecuali bila dia bersaksi dengan kesaksian yang penuh dengan keyakinan bahwa Muhammad saw. adalah hamba dan rasul-Nya.

Dialah cahaya yang menerangi, sebagai penutup kenabian,
karunia dari Allah yang diberkati dan disaksikan.

Tuhan telah menggandengkan namanya dengan nama diri-Nya,
manakala muadzdzin mengucapkan asyhadu dalam shalat lima waktu.

Allah telah membelah untuknya sebagian dari asma-Nya, maka Allah yang memiliki ‘Arsy adalah Tuhan Yang Maha Terpuji, sedang dia adalah orang yang terpuji.

Allah telah mengutusnya pada masa kekosongan para rasul. Dia memberi petunjuk kepada manusia melaluinya ke jalan yang paling lurus dan paling jelas. Dia telah mengharuskan hamba-hamba-Nya untuk mencintai, mematuhi, dan menghormatinya, serta menunaikan hak-haknya. Dia menutup semua jalan menuju ke surga dan tidak membukakannya bagi seorang pun, kecuali melalui jalannya. Tiada harapan untuk dapat meraih pahala yang berlimpah dan selamat dari derasnya hukuman, kecuali hanya bagi orang-orang yang menempuh perjalanan mengikuti jejaknya. Dan masih belum beriman (dengan keimanan yang sempurna) seorang hamba, kecuali setelah mencintainya lebih dari kecintaannya terhadap diri sendiri, anak, kedua orangtua, dan manusia semuanya. Semoga Allah, para malaikat, nabi-nabi, para rasul, dan hamba-hamba-Nya yang beriman, bershalawat untuknya, karena beliau adalah orang yang mengesakan Allah, mengenalkan keesaan-Nya kepada umatnya, dan menyeru mereka untuk mengesakan-Nya, yaitu dengan shalawat yang tiada pernah beralih darinya tanpa henti-hentinya. Semoga shalawat dan salam yang sebanyak-banyaknya terlimpahkan pula buat segenap keluarganya yang baik dan para shahabatnya yang suci.

Amma ba’du.

Sesungguhnya Allah yang Mahamulia pujian-Nya lagi Mahasuci asma-asma-Nya telah menjadikan kalbu ini bagaikan wadah, maka wadah yang paling baik adalah wadah yang paling banyak memuat kebaikan dan petunjuk; dan wadah yang paling buruk adalah wadah yang paling banyak memuat kesesatan dan kerusakan lagi dikuasai oleh hawa nafsunya. Allah menguji kalbu untuk menentang hawa nafsu agar dengan menentangnya, yang bersangkutan dapat meraih surga sebagai tempat tinggalnya yang abadi. Sebaliknya, orang yang tidak berhak mendapatkan surga karena mengikuti hawa nafsunya berhak menghuni neraka yang sangat besar nyala apinya, sebab dia menjadikan hawa nafsunya yang selalu memerintahkan kepada keburukan sebagai menu dan santapannya serta menjadikan penyakit yang menggerogoti ketenangan jiwanya dengan menjauhi obat penawarnya, padahal Allah SWT telah mewajibkan kepada seorang hamba untuk mendurhakai hawa nafsunya dan menentang segala keinginannya dalam usianya yang pendek ini, yang bila dibandingkan dengan keabadian alam akhirat sama halnya dengan sesaat dari siang hari atau seperti basah yang diraih oleh jari telunjuk bila dimasukkan ke dalam air laut bila dibandingkan dengan banyaknya air laut.

Allah SWT telah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk mengekang nafsu syahwatnya yang bila diperturutkan akan membinasakah dirinya. Allah telah melarangnya untuk cenderung pada kesenangannya dan tidak mengumbar pandangan matanya yang selalu melirik kepadanya untuk meraih kenikmatannya agar hati yang bersangkutan dapat meraih kemuliaan dari-Nya dan beroleh pahala-Nya yang berlimpah lagi sempurna serta meraih kenikmatan di kemudian hari yang berkali-kali lipat dari kesenangan haram yang ditinggalkannya karena Allah di dunia ini. Allah telah memerintahkan kepadanya untuk berpuasa terhadap hal-hal yang diharamkan oleh-Nya agar saat berbukanya nanti adalah di sisi-Nya saat ia bertemu dengan-Nya di kemudian hari. Allah SWT pun telah memberitakan bahwa sebagian besar siang hari puasa telah berlalu dan hari raya pertemuan ini sudah mendekat; baik cepat maupun lambat, masa tersebut pasti akan terjadi. Perihalnya sama dengan apa yang dikatakan oleh seorang penyair:

Kehidupan ini tiada lain hanyalah seperti sesaat, kemudian usai,
dan lenyaplah dunia ini seluruhnya tanpa meninggalkan bekas.

Allah telah menciptakan kalbu ini untuk urusan yang besar dan mempersiapkannya untuk menjalani berbagai cobaan yang berat-berat. Untuk itu, Dia telah menyediakan baginya imbalan pahala berupa kenikmatan abadi yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati seorang manusia pun. Berkat kebijakan Allah yang teramat sangat, Dia telah menetapkan bahwa kenikmatan yang abadi ini tidak dapat diraih, melainkan melalui jalan yang tidak disukai lagi penuh dengan susah payah; dan jalan untuk meraihnya tidaklah dapat dilalui, kecuali dengan menyeberangi jembatan yang penuh dengan penderitaan lagi sangat melelahkan. Allah sengaja menghijabinya dengan tirai-tirai yang tidak disukai, guna memeliharanya dari jangkauan orang yang berjiwa hina dan hanya memprioritaskan hal-hal yang nista dan rendah. Dengan demikian, yang berjuang untuk meraihnya hanyalah mereka yang berjiwa mulia dan bercita-cita tinggi, yang dalam perjalanan untuk meraihnya mereka bekali dirinya dengan tekad yang membaja dan semangat yang berkobar-kobar sehingga dapat menghantarkan mereka untuk meraih tujuan terakhirnya yang paling mulia.

Mereka bagaikan kafilah yang menempuh perjalanannya
saat malam menurunkan kegelapan tirainya
yang menutupi semua yang ada di persada padang sahara.
Tekad yang membaja dan semangat yang terus berkobar
melipat jauhnya perjalanan,
sehingga perjalanan malam hari mereka yang penuh tantangan tak terasa.
Cahaya bintang-bintang malam hari menuntun mereka
kepada cita-citanya yang tergantung tinggi
di atas bintang-bintang yang terang di langit.
Mereka bertujuan meraih cita-cita luhur
yang tidak layak bagi selain mereka
tanpa mempedulikan ocehan orang-orang yang mencela.

Mereka memenuhi seruan Sang Kekasih saat diserukan kepada mereka ucapan hayya ‘alal falaah; mereka mengorbankan jiwa mereka di jalan yang diridhai-Nya dengan pengorbanan yang sukarela dan penuh dengan ketulusan; dan mereka melanjutkan perjalanannya secara terus-menerus untuk sampai kepada-Nya, baik di pagi hari maupun di petang hari. Mereka bersyukur kepada Allah manakala perjalanan malam harinya telah sampai ke tujuan, dan sesungguhnya kaum yang melakukan perjalanan malam hari hanya baru mengungkapkan rasa syukurnya bila telah berada di pagi harinya. Mereka mengalami kelelahan sebentar, tetapi mereka beroleh kesenangan yang abadi; dan mereka meninggalkan hal yang kecil, lalu menukarnya dengan hal yang besar. Mereka letakkan kesenangan yang segera dan kesudahan yang terpuji dalam neraca rasio yang sehat, sehingga tampak jelaslah bagi mereka perbedaan bobot antara keduanya. Mereka melihat sebagai sikap yang amat bodohlah bila seseorang menukar kehidupan yang baik lagi kekal dalam kenikmatan yang abadi, dengan kesenangan sesaat yang cepat berlalu kenikmatannya, sedang penderitaannya tetap membebaninya. Terlebih lagi bila disadari bahwa sebagian dari hari-hari yang penuh dengan kesenangan bagi seorang hamba seandainya hal itu terus berlangsung dengan mulus sejak permulaan usianya hingga tutup usia, tentulah akan terasa bagaikan pada awan pada musim panas yang cepat berlalu dalam waktu yang sebentar. Atau sama dengan bayangan naungan yang belum lagi orang yang bersangkutan menyelesaikan kunjungannya secara penuh, ternyata seruan untuk segera berangkat telah dikumandangkan. Perihalnya sama dengan makna yang terkandung dalam firman-Nya:

Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, kemudian datang kepada mereka adzab yang telah diancamkan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya. (QS asy-Syu’araa’ [26]: 205-207)

Barangsiapa yang dapat meraih pahala Allah sebagaimana yang didambakannya, tentu dia tidak akan merasa cemas barang sesaat pun terhadap hal-hal yang dihindari dan dikhawatirinya selama hidupnya. Perihalnya sama dengan makna yang terkandung dalam bait syair yang sering diungkapkan oleh ‘Umar ibnul Khaththab r.a. berikut:

Seakan-akan engkau tidak pernah merasa cemas barang sesaat pun
bila telah berhasil meraih apa yang engkau dambakan

BUAH AKAL

Berikut ini adalah buah akal yang dengan keberadaannya manusia dapat mengenal Allah SWT; begitu pula asma-asma-Nya, kesempurnaan sifat-sifat-Nya, dan keagungan ciri-ciri-Nya. Berkat adanya akal, orang-orang mukmin beriman kepada kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari pertemuan dengan-Nya, dan para malaikat-Nya. Berkat keberadaan akal, mereka dapat mengetahui tanda-tanda kekuasaan-Nya, bukti-bukti keesaan-Nya, dan mukjizat rasul-rasul-Nya. Berkat keberadaan akal pula, mereka dapat melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Hanya akallah yang dapat memprediksikan terjadinya berbagai kesudahan, sehingga yang bersangkutan dapat bersikap mawas diri dan melakukan berbagai hal yang harus dikerjakannya demi memperjuangkan kemashlahatan dirinya. Berkat adanya akal, dia dapat melakukan perlawanan terhadap kemauan hawa nafsu dan mengusir pasukannya dengan berbekal kesabaran, sehingga dapat meraih kemenangan dan terhindar dari serangan senjatanya yang membinasakan. Akallah yang dapat mendorong seseorang untuk berbuat keutamaan, mencegah dirinya dari melakukan kehinaan, menyibakkan makna dan menguak kemisteriannya, mengokohkan fondasi niat hingga dapat berdiri kokoh di atas landasannya, dan menguatkan pilar tekad hingga yang bersangkutan dapat meraih taufiq dari Allah SWT, dan sesudahnya yang bersangkutan dapat mendatangkan hal-hal yang baik dan membuang hal-hal yang buruk.

Apabila akal mulai dapat berperan dengan segala kekuasaan yang dimilikinya, tentu yang bersangkutan dapat menawan pasukan hawa nafsu dan menjebloskannya di dalam penjara orang yang percaya dengan janji Allah yang mengatakan bahwa barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti kepadanya hal yang lebih baik daripadanya, kemudian menempatkan orang yang bersangkutan pada kedudukan bagaikan raja dan menjadikan hawa nafsunya bagaikan budak belian dan hamba sahayanya. Kedudukan ini bak sebuah pohon yang akarnya adalah buah pikirannya terhadap segala akibat; batangnya adalah kesabaran; dahannya adalah ilmu; dedaunannya adalah akhlaq yang baik; dan buahnya adalah kebijaksanaan. Adapun benihnya berasal dari taufiq Tuhan yang di tangan kekuasaan-Nyalah terletak semua urusan; permulaannya berasal dari-Nya; dan kesudahannya akan dikembalikan kepada-Nya.

Apabila karakter seseorang berspesifikasi seperti yang telah disebutkan di atas, tentu sangat sulit bagi musuh-musuhnya untuk dapat mengalahkannya dan memecatnya dari kerajaan akalnya atau menurunkan pangkatnya dan memecatnya dari jabatannya untuk membuatnya menjadi tawanan sesudah menjadi raja, menjadi orang yang terhukum sesudah menjadi penguasa, dan menjadi pengikut sesudah menjadi ikutan. Barangsiapa yang bersabar dalam menjalankan hukum-Nya, niscaya Allah akan menyenangkannya di dalam taman rekreasi yang menjadi dambaan angan-angan dan harapannya. Sebaliknya, barangsiapa yang membangkang terhadap hukum-hukum-Nya, niscaya Allah akan menjerumuskannya ke dalam jurang kehancuran dan kebinasaan.

‘Ali bin Abu Thalib r.a. telah mengatakan bahwa sesungguhnya telah mendahului masuk ke dalam surga ‘Adn sejumlah kaum, padahal mereka bukan termasuk orang yang paling banyak mengerjakan shalat, puasa, haji, atau ‘umrah. Mereka adalah orang yang menggunakan akalnya untuk merenungi pelajaran dari Allah; karena itu, mereka menjadi bergetar penuh rasa takut dan harap kepada-Nya, merasa tenang dengan keridhaan-Nya, dan tunduk patuhlah kepada-Nya semua tubuhnya, sehingga mereka mengungguli manusia yang lain karena telah meraih kedudukan yag baik dan derajat tinggi menurut pandangan manusia di dunia ini dan juga di sisi Allah kelak di akhirat.

‘Umar bin Khaththab r.a. telah mengatakan bahwa orang yang berakal itu bukanlah orang yang dapat membedakan hal yang baik dan hal yang buruk. Akan tetapi, orang berakal adalah orang yang dapat memilih hal yang terbaik diantara kedua hal yang buruk.

‘Aisyah r.a. telah mengatakan bahwa beruntunglah orang yang telah dianugerahi akal oleh Allah.

Ibnu ‘Abbas r.a. telah mengatakan bahwa ketika Kisra (raja Persia) dikaruniai seorang putra, dia mengundang seorang yang pakar dalam bidang pendidikan, lalu meletakkan bayinya di hadapannya dan bertanya: “Anugerah apakah yang paling baik untuk diberikan kepada anak ini?” Sang pendidik menjawab: “Akal yang dilahirkan bersamanya.” Kisra bertanya: “Bagaimana kalau anak ini tidak memiliki akal yang baik?” Sang pendidik menjawab: “Etika yang baik untuk bergaul dengan orang lain.” Kisra bertanya lagi: “Bagaimana kalau tidak dapat diajari dengan etika yang baik?” Sang pendidik menjawab: “Lebih baik ia mati disambar geledek!”

Seorang cendekiawan mengatakan bahwa setelah Allah SWT menurunkan Adam ke bumi, malaikat Jibril datang kepadanya dengan membawa tiga perkara, yaitu agama, akhlaq, dan akal, lalu malaikat Jibril berkata: “Sesungguhnya Allah telah menyuruhmu untuk memilih salah satu diantara ketiga perkara ini.” Adam menjawab: “Hai Jibril, aku tidak pernah melihat yang terbaik diantara ketiganya ini di dalam surga, selain ini.” Adam pun mengulurkan tangannya kepada akal dan memeluknya dan berkata kepada kedua lainnya: “Naiklah kembali kalian berdua!” Akan tetapi, keduanya menjawab: “Kami telah diperintahkan untuk tetap menemani akal di mana pun ia berada.” Maka jadilah ketiganya menyertai Adam a.s.. Ketiga perkara ini merupakan penghormatan paling besar yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya dan juga merupakan anugerah paling mulia yang telah diberikan oleh Allah kepadanya.

Namun demikian, Allah SWT telah menjadikan bagi akal tiga musuh bebuyutannya, yaitu hawa nafsu, setan, dan ambisi, maka pertempuran antara kedua belah pihak silih berganti; terkadang yang ini menang dan yang itu kalah, kemudian yang ini kalah dan yang itu menang, demikianlah seterusnya. Allah SWT telah berfirman:

Dan kemenangan(mu) itu hanyalah dari Allah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS Ali ‘Imran [3]: 126)

Wahb ibnu Munabbih menceritakan bahwa ia telah membaca pada sebagian kitab terdahulu yang telah diturunkan oleh Allah SWT yang menyebutkan sebagai berikut: “Sesungguhnya setan belum pernah mengalami suatu kesulitan pun yang lebih berat daripada menghadapi orang mukmin yang berakal, padahal setan benar-benar mampu menggiring seratus orang jahil dan mencocok hidung mereka sehingga patuh dan menurut kemauan setan ke arah mana pun yang disukai olehnya. Akan tetapi, setan mengalami penderitaan untuk menghadapi seorang mukmin yang berakal. Dia merasa sangat kesulitan meskipun hanya untuk meraih suatu keperluan yang tidak berarti darinya.”

Wahb telah mengatakan bahwa bagi setan, melenyapkan sebuah gunung dengan membongkar batu-batu besarnya, batu demi batu, jauh lebih mudah daripada menghadapi orang mukmin yang berakal. Apabila ia tidak mampu menggodanya, beralihlah kepada orang yang jahil, lalu menjeratnya dan menguasainya dengan benar-benar serta menjerumuskannya ke dalam berbagai skandal yang menyebabkan orang yang bersangkutan harus mengalami hukuman yang segera di dunia ini, seperti hukuman dera, hukuman rajam, hukuman potong tangan, disalib, dan dipermalukan, sedang di akhirat nanti dia akan mendapatkan keaiban, neraka, dan celaan yang amat buruk.

Sesungguhnya ada dua orang lelaki yang benar-benar setara dalam amal kebajikannya, tetapi ternyata karena akal, keutamaan diantara keduanya menjadi jauh berbeda bagaikan jauhnya jarak antara timur dan barat.

Tiada sesuatu pun yang lebih utama untuk menjadi bekal ibadah kepada Allah, selain akal.

Mu’adz bin Jabal r.a. telah mengatakan bahwa seandainya orang yang berakal berpagi hari dan berpetang hari dengan melakukan dosa-dosa yang banyaknya sama dengan bilangan pasir, niscaya dalam waktu yang dekat akan berkesudahan selamat dan berhasil menghindarkan diri darinya. Sebaliknya, jika orang yang jahil berpagi hari dan berpetang hari dengan mengerjakan berbagai amal kebaikan dan kebajikan yang banyaknya sama dengan bilangan pasir, niscaya dalam waktu yang dekat akan berkesudahan dan tidak dapat mempertahankan amalnya barang sebiji sawi pun. Ketika ditanyakan kepadanya: “Bagaimana bisa demikian?” Mu’adz r.a. menjawab: “Sesungguhnya orang yang berakal apabila tergelincir ke dalam dosa, ia dapat menanggulanginya dengan bertobat berkat akal yang dianugerahkan kepadanya. Berbeda halnya dengan orang yang jahil, maka keadaannya sama dengan seseorang yang membangun dan meruntuhkan kembali apa yang telah dibangunnya dalam waktu yang sama, karena kejahilannyalah yang membuatnya merusak kembali pekerjaan baik yang telah dilakukannya.”

Al-Hasan (al-Bashri) telah mengatakan bahwa masih belum sempurna agama seseorang sebelum akalnya sempurna; dan tidaklah sekali-kali Allah membekali seseorang dengan akal, melainkan suatu hari akalnya itu pasti akan menyelamatkannya.

Seorang yang bijak mengatakan bahwa barang siapa kemampuan akalnya tidak dapat mengendalikan dirinya, niscaya kematian dan kebinasaannya berada di dalam sesuatu yang paling disukainya.

Yusuf bin Asbath telah mengatakan bahwa akal adalah pelita batin, perhiasan lahir, stabilisator tubuh, dan pengendali urusan seorang hamba. Kehidupan ini tidak akan membaik, kecuali dengan akal; dan semua urusan tidak dapat berjalan dengan lancar, kecuali dengan akal.

Pernah ditanyakan kepada ‘Abdullah ibnul Mubarak: “Anugerah apakah yang lebih utama bagi seseorang sesudah Islam?” Ia menjawab: “Naluri akal.” Ditanyakan lagi: “Bagaimana jika tidak punya naluri akal?” Ia menjawab: “Etika yang baik.” Ditanyakan lagi: “Bagaimana jika tidak punya etika yang baik?” Ia menjawab: “Saudara shalih yang dapat dimintai sarannya.” Ditanyakan lagi: “Bagaimana jika tidak punya saudara yang shalih?” Ia menjawab: “Banyak diam.” Ditanyakan lagi: “Bagaimana jika tidak dapat banyak diam?” Ia menjawab: “Lebih baik kematian yang segera.” Sehubungan dengan hal ini, seorang penyair telah mengatakan:

Tidaklah sekali-kali Allah memberi seseorang
anugerah yang lebih baik, selain akal dan etikanya
Keduanya adalah ketampanan seorang pemuda
dan tanpa keduanya kehilangan nyawa lebih baik baginya.

MENYEIMBANGKAN DORONGAN HAWA NAFSU DAN POTENSI AKAL

Apabila kekuasaan berada di tangan akal, maka hawa nafsu akan tunduk kepadanya menjadi pelayan dan pengikutnya. Sebaliknya, jika kekuasaan berada di tangan hawa nafsu, maka akal akan menjadi tawanan yang tunduk di bawah kekuasaannya. Sepanjang hidupnya seorang hamba tidak akan dapat membebaskan diri dari hawa nafsunya, karena hawa nafsu merupakan bagian dari dirinya. Karenanya, melepaskan diri darinya secara total merupakan hal yang mustahil. Akan tetapi, sikap yang diperintahkan bagi yang bersangkutan guna menghadapi hawa nafsunya ialah menghindarkannya dari hal-hal yang dapat menjerumuskannya ke dalam lembah kebinasaan, kemudian mengarahkannya pada hal-hal yang aman dan membawa keselamatan.

Sebagai contohnya, bahwa sesungguhnya Allah SWT tidak memerintahkan kepada seorang hamba untuk memalingkan kalbunya dari menyukai wanita secara total, tetapi Dia memerintahkan kepadanya agar menyalurkan hawa nafsunya dengan menikahi wanita yang disukainya mulai dari satu hingga empat, atau mengawini budak perempuan menurut yang disukainya. Dengan demikian, hawa ini hanya disalurkan dari satu tujuan ke tujuan yang lain, tak ubahnya bagaikan angin yang bertiup ganas pada awal mulanya, kemudian setelah disalurkan sedemikian rupa berubah menjadi angin sepoi-sepoi.

Begitu pula dengan ambisi untuk meraih keberhasilan, kemenangan, dan kekuasaan, Allah tidak memerintahkan kepada seorang hamba untuk memutuskan diri dari ambisi ini, tetapi memerintahkan kepadanya agar menyalurkan ambisinya itu sebagai potensi untuk mengalahkan kebathilan dan para pendukungnya. Dia memerintahkan kepadanya untuk tujuan itu agar melakukan berbagai macam aktivitas penempaan diri melalui perlombaan dan sebagainya agar menjadi terlatih dan beroleh kelayakan untuk meraih kemenangan. Begitu pula halnya dengan ambisi kesombongan, kebanggaan, dan keangkuhan yang memang diperbolehkan, bahkan dianjurkan bila digunakan untuk memerangi musuh-musuh Allah. Sesungguhnya Nabi saw. sendiri melihat Abu Dujanah alias Simak bin Kharasyah al-Anshari berjalan dengan langkah yang angkuh diantara kedua barisan (pasukan kaum muslim dan pasukan musuh), lalu beliau bersabda:

“Sesungguhnya langkah ini benar-benar merupakan cara berjalan yang dimurkai Allah, kecuali di tempat yang semisal ini.”

Rasulullah saw. telah bersabda pula:

Sesungguhnya diantara sikap sombong itu ada yang disukai oleh Allah dan ada pula yang dibenci oleh-Nya. Adapun kesombongan yang disukai oleh Allah ialah langkah yang angkuh dari seseorang dalam kancah peperangan dan sikapnya yang sombong saat bershadaqah.”

hingga akhir hadits. (Dalam Musnad Imam Ahmad 5/445,446 telah disebutkan melalui Jabir bin ‘Atik r.a. bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

“Sesungguhnya diantara kecemburuan itu ada yang disukai oleh Allah dan ada pula yang dibenci oleh-Nya; begitu pula halnya dengan keangkuhan, ada yang disukai oleh Allah dan ada pula yang dibenci oleh-Nya. Kecemburuan yang disukai oleh Allah ialah cemburu terhadap hal-hal yang mengandung kecurigaan [yg berdasar], dan kecemburuan yang dimurkai oleh Allah ialah cemburu terhadap hal-hal yang tidak mengandung kecurigaan. Keangkuhan yang disukai oleh Allah ialah sikap angkuh seseorang di medan peperangan dan juga sikap angkuhnya saat bershadaqah; dan keangkuhan yang dibenci oleh Allah ialah sikap angkuh seseorang saat membangga-banggakan dirinya dan sikapnya yang melampaui batas.”)

Tidaklah sekali-kali Allah mengharamkan sesuatu atas hamba-hamba-Nya, melainkan Dia memberi ganti buat mereka dengan hal lain yang lebih baik daripadanya. Sebagai contohnya:

  • Allah telah mengharamkan kepada manusia mengundi nasib dengan anak panah (dadu), maka Allah SWT menggantikannya untuk mereka dengan do’a istikharah.
  • Allah telah mengharamkan riba kepada mereka, maka Dia menggantikannya bagi mereka dengan perdagangan yang menguntungkan.
  • Allah telah mengharamkan kepada mereka berjudi, maka Dia menggantikannya untuk mereka dengan mendapatkan harta dr hasil perlombaan balap kuda, unta, dan memanah yang berguna bagi kepentingan agama (jihad).
  • Allah telah mengharamkan kepada mereka kain sutera, maka Dia menggantikannya bagi mereka dengan berbagai macam pakaian yang mewah, baik yang terbuat dari wol, katun, maupun bahan lainnya.
  • Allah telah mengharamkan kepada mereka zina dan sodomi, maka Dia menggantikan keduanya bagi mereka dengan pernikahan dan poligami dengan wanita-wanita yang cantik-cantik.
  • Allah telah mengharamkan kepada mereka minum khamr, maka Dia menggantikannya untuk mereka dengan berbagai macam minuman yang enak lagi berguna bagi kesehatan rohani dan jasmani.
  • Allah telah mengharamkan kepada mereka mendengar suara musik dan lagu-lagu, maka Dia memberikan gantinya bagi mereka dengan mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang.
  • Allah pun telah mengharamkan kepada mereka beberapa jenis makanan yang buruk-buruk, maka Dia menggantikannya bagi mereka dengan berbagai macam makanan yang baik-baik.

Barang siapa yang memperhatikan hal ini dan merenungkannya, akan menjadi mudahlah baginya untuk meninggalkan keinginan hawa nafsunya yang membinasakan, lalu menggantinya dengan hal yang bermanfaat lagi sangat berguna bagi dirinya. Dia akan mengetahui hikmah kebijaksanaan Allah, rahmat, dan kesempurnaan nikmat-Nya bagi hamba-hamba-Nya dalam semua hal yang diperintahkan-Nya kepada mereka, semua hal yang dilarang-Nya bagi mereka, dan semua hal yang diperbolehkan-Nya bagi mereka, bahwa tidaklah sekali-kali Allah memerintahkan sesuatu yang telah Dia perintahkan kepada mereka semata-mata sebagai kebaikan dan rahmat dari-Nya; dan tidaklah sekali-kali Dia melarang sesuatu yang telah Dia larang terhadap mereka, melainkan semata-mata untuk melindungi dan mengayomi mereka dari hal-hal yang membahayakan diri mereka.

Berangkat dari alasan tersebut, saya tulis buku ini sebagai upaya untuk menyeimbangkan antara dorongan hawa nafsu dan potensi akal, karena apabila keseimbangan antara hawa nafsu dan akal telah terealisasi, akan menjadi mudahlah bagi seorang hamba untuk memerangi hawa nafsu dan godaan setan. Hanya kepada Allah jualah diminta pertolongan dan hanya kepada-Nyalah saya berserah diri. Oleh karena itu, apa pun kebenaran yang terkandung di dalamnya, hal itu berasal dari Allah, karena Dialah yang telah memberi taufiq & pertolongan kepadanya; dan kekeliruan apa pun yang ada di dalamnya, maka sesungguhnya hal itu berasal dariku dan dari setan, sedang Allah dan Rasul-Nya bersih dari hal tersebut. Sesungguhnya saya telah menjadikan kandungan buku ini dalam 29 bab dan saya memberinya judul dengan sebutan Raudhatul Muhibbiin wa Nuzhatul Musytaaqiin (Taman orang-orang jatuh cinta dan rekreasi orang-orang dimabuk rindu.) Ke-29 bab tersebut adalah:

1. Nama-nama cinta
2. Akar kata nama-nama cinta dan maknanya
3. Hubungan antar nama-nama cinta
4. Alam atas dan alam bawah diciptakan karena cinta dan untuk cinta
5. Motivasi cinta dan ketergantungannya
6. Hukum pandangan mata dan bahayanya
7. Perdebatan antara hati dan mata
8. Pandangan mata dan peluk cium, golongan yang membolehkannya
9. Sanggahan terhadap golongan yang membolehkan pandangan mata dan peluk cium
10. Hakikat rindu dan spesifikasinya
11. Rindu: Taqdir atau ada campur tangan manusia
12. Mabuk rindu
13. Kesempurnaan kenikmatan tergantung pada kesempurnaan cinta
14. Pengagum dan pendamba cinta
15. Pencela cinta
16. Mendudukkan permasalahan cinta
17. Merealisasikan cinta
18. Obat mujarab bagi orang yang jatuh cinta
19. Keutamaan kecantikan dan kecenderungan hati padanya
20. Pertanda cinta dan buktinya
21. Cinta menuntut sikap monogami dan tidak berhati mendua
22. Orang yang jatuh cinta punya rasa cemburu
23. Cinta yang tulus
24. Akibat melanggar dua jalan yang diharamkan
25. Rahmat dan syafa’at bagi orang yang jatuh cinta
26. Meninggalkan yang kurang dicintai demi memilih yang lebih dicintai
27. Orang yang meninggalkan kesukaannya yang diharamkan akan dianugerahi yang halal atau Allah akan memberinya ganti yang lebih baik
28. Lebih memilih hukuman dan penderitaan di dunia daripada kenikmatan hubungan yang diharamkan
29. Menentang hawa nafsu demi meraih cita-cita

Diharapkan kepada setiap orang yang hendak menelaah kandungan buku ini agar sudi memaafkan penulisnya, mengingat dia menyusunnya saat berada jauh dari kampung halaman tanpa membawa referensinya. Karenanya, sudah barang tentu apa yang ia tuangkan dalam buku ini hanya mengandalkan pengetahuan yang tersimpan dalam memori ingatannya, kemudian ia himpunkan dengan susah-payah, lalu menyajikannya menurut ala kadarnya. Hal ini membuat keadaannya benar-benar tak ubahnya seperti apa yang dikatakan oleh pepatah, bahwa “kaudengar suara Mu’aidi yang merdu lebih baik daripada kaulihat rupanya buruk.” Keadaan ini juga yang membuatnya seperti orang memposisikan dirinya bagaikan sasaran yang empuk untuk anak-anak panah dan tombak-tombak kritikan yang siap menghunjamnya.

Oleh karena itu, pihak yang diuntungkan adalah para pembacanya, sedang yang menderita kerugian adalah penulisnya. Inilah hasil jerih-payah yang ala kadarnya, ditawarkan kepada Anda dan disajikan sebagai cindera mata buat Anda. Jika Anda menjumpai di dalamnya kecocokan yang sangat serasi, tiada halangan bagi Anda untuk memeliharanya dengan baik atau melepaskannya dengan cara yang baik pula. Jika anda menjumpai di dalamnya hal yang sebaliknya, maka hanya kepada Allahlah diminta pertolongan dan hanya kepada-Nyalah berserah diri. Akan tetapi, penulisnya cukup merasa puas dengan imbalan do’a yang tulus dari pembacanya, jika hasil karyanya ini dapat diterima dan disambut dengan baik olehnya; atau ditolak dengan cara yang baik jika memang kurang sesuai dan tidak berkenan di dalam hatinya.

Orang yang berpandangan objektif akan menanggapi kekeliruan orang lain dengan reaksi meluruskannya dan menyambut keburukannya dengan balasan kebaikan. Memang demikianlah tuntunan yang dianjurkan oleh Allah atas hamba-hamba-Nya dalam memberikan balasan yang terbaik, mengingat tiada seorang pun yang semua ucapannya lurus dan seluruh perbuatannya benar. Tiada lain orang yang dapat berbuat demikian, kecuali hanyalah seorang yang [oleh Allah] dima’shum (dihindarkan dari kesalahan). Dialah orang yang berbicara bukan atas kemauannya sendiri, karena ucapannya adalah wahyu yang diturunkan kepadanya. Oleh karena itu, Hadits apa pun yang g shahih darinya merupakan dalil naqli yang dibenarkan bersumberkan dari pengucapnya yang dima’shum, sedangkan yang bukan berasal darinya, maka kedua kriteria tersebut tidak terkandung di dalamnya, meskipun penukilannya memang shahih, sudah pasti pengucapnya bukan seorang yang dima’shum, dan jika tidak shahih, berarti sudah jelas tidak dapat diyakini berasal darinya.

UNTUK SEGENAP LAPISAN MASYARAKAT

Buku ini layak dibaca oleh segenap lapisan masyarakat, karena sesungguhnya buku ini dapat dijadikan sebagai sarana yang dapat membantunya untuk menjalani urusan agama dan dunia serta memberinya nilai tambah untuk kesenangan dunia dan kenikmatan di akhiratnya nanti. Di dalamnya terkandung pembahasan tentang berbagai macam cinta, hukum-hukumnya, hal-hal yang berkaitan dengannya, cinta yang dibenarkan dan cinta yang bathil, berbagai macam bencana dan keburukannya, serta berbagai macam penyebab dan hambatannya. Di dalamnya disebutkan pula berbagai faidah lembut yang berkaitan dengannya, baik yang bersumberkan dari tafsir Al-Qur’an, Hadits Nabi saw., masalah fiqih, atsar ulama salaf, bukti-bukti berupa syair, maupun kejadian-kejadian bersejarah. Semuanya itu diharapkan dapat memberikan kesenangan bagi pembacanya dan hiburan bagi yang merenungkannya.

Namun demikian, jika seseorang ingin memperluas cakrawala pengetahuannya dengan penuh kesungguhan, maka buku ini dapat memberikan kepadanya anjuran dan peringatan; dan jika ingin hal yang lain, maka ia dapat mengambil lelucon yang dapat menghibur dirinya, terkadang akan membuatnya tertawa dan terkadang akan membuatnya menangis. Dari sisi lain, kandungan buku ini dapat menjauhkannya dari berbagai sarana yang dapat mendatangkan kenikmatan sementara dan di sisi lain terkadang menganjurkannya untuk meraihnya dan mendekatkan diri kepadanya. Jika Anda suka, bisa saja menjadikan buku ini sebagai pelajaran yang memberikan nasihat kepadanya; dan jika Anda suka, bisa saja Anda mendapatkan bagian Anda dengan cuma-cuma dari kesenangan, kepuasan, dan sarana yang dapat menghantarkan Anda untuk menjalin hubungan dengan yang Anda cintai. Semuanya itu dapat dijumpai bila mulai masuk pembahasannya bab demi bab. Hanya Allahlah yang dapat membuka semua pintu kebaikan dan hanya kepada-Nyalah diminta semoga karya tulis ini dilakukan hanya karena Allah yang Mahamulia, meraih ridha-Nya, dan mendapatkan surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan. Allahlah yang mengatur kalbu seorang hamba dan usaha yang dilakukannya; dan Dia selalu menjadi sebutan dan ingatan dalam kalbunya.

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberikan-Nya kepada kamu apa yang kamu kerjakan’.” (QS at-Taubah [9]: 105)

————
Tulisan di atas merupakan salinan dari buku Ibnu Qayyim Al-Juziyah, Taman Jatuh Cinta & Rekreasi Orang-orang Dimabuk Rindu (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2006), hlm. 15-38.

%d blogger menyukai ini: